Badai Covid di Tengah Perekonomian dan Pembangunan Indonesia

Badai Covid di Tengah Perekonomian dan Pembangunan Indonesia

 

Merebaknya virus Covid-19 di segala penjuru dunia telah mengakibatkan dampak  yang sangat signifikan bagi Indonesia. Penyebaran trend kenaikan penderita virus Covid-19 di Indonesia yang tidak kunjung melandai, tentunya membuat Indonesia tidak kunjung bebas dari ancaman virus Covid-19. Tidak hanya itu, carut marutnya perekonomian dan pembangunan di Indonesia akibat virus Covid-19 ini  menambah panjang beban tugas pemerintah untuk segera mengatasi permasalahan tersebut.

Dampak perekonomian yang dirasakan oleh  Indonesia yaitu ancaman resesi yang diprediksi akan terjadi jika capaian kuartal III kembali negatif. Pada kuartal sebelumnya, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 tercatat berada pada minus 5,32 persen. Ancaman resesi didepan mata tentunya pemerintah berupaya agar terhindar dari ancaman resesi dengan cara penggelontoran anggaran sebesar Rp 695,2 triliun untuk pemulihan ekonomi, sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan di kuartal II dan dapat mempercepat pemulihan pada kuartal III.

Selain dihantui oleh ancaman resesi, pemerintah juga dihadang oleh ancaman melambatnya pembangunan infrastruktur yang diakibatkan oleh penurunan investasi. Perununan investasi ini disebabkan oleh rendahnya daya beli di masyarakat yang berakibat pada berubahnya proyeksi pasar.   Akibatnya investor menunda investasi akibat  ketidakjelasan supply chain yang pada akhirnya berimbas pada pembangunan infrastruktur.

            Padahal pemerintah menganggarkan sekitar US$29 miliar untuk infrastruktur, dengan rincian 40% dari total anggaran, atau sekitar US$164,8 miliar yang  berasal dari total investasi. Anggaran senilai US$412 miliar digunakan untuk proyek infrastruktur  tahun 2020 hingga 2024,  akan didanai langsung oleh pemerintah dan sisanya berasal dari BUMN (25%) dan swasta (35%). Namun akibat dari berlarutnya pandemi Covid-19 ini membuat pemerintah mengalihkan dana tersebut, sehingga sumber pendanaan akan pupus akibat digunakan untuk menghadapi resesis.

Namun disisi lain pembangunan infrastruktur sebagai salah satu sarana pemulihan perekonomian, karena dapat membuka lapangan pekerjaan, memperluas pangsa pasar baru dan meningkatkan efisiensi anggaran.  Pembangunan infrastruktur dan pengembangan ekonomi memiliki keterkaitan erat sehingga tidak dapat dipisahakan, karena pembangunan infrastruktur akan menimbulkan ekspansi ekonomi melalui efek multiplier. Sedangkan ekspansi ekonomi akan menimbulkan peningkatan jumlah kebutuhan untuk memperluas infrastruktur yang ada, sehingga mempercepat sirkulasi roda perekonomian.

Untuk itu, seyogyanya Indonesia harus memaksimalkan pemanfaaatan dana dari berbagai inisiatif infrastruktur dan konektivitas yang telah ada. Selain itu, Indonesia harus menyiapkan skenario dengan asumsi bahwa penemuan vaksin dan obat paten membutuhkan waktu yang lama serta bagaimana menggerakkan roda perekonomi dan pembangunan saat pasca pandemi.

 

Tinggalkan Balasan