Kegagalan PSSB Transisi COVID-19 dalam Mengendalikan Pergerakan Orang di Indonesia
Ilustrasi aktivitas penumpang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada masa PSBB Transisi

Kegagalan PSSB Transisi COVID-19 dalam Mengendalikan Pergerakan Orang di Indonesia

Walau telah berbulan-bulan lamanya masyarakat Indonesia melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat pandemi COVID-19, nampaknya tidak muncul tanda-tanda akan berakhirnya masalah tersebut di negara ini. Desakan bertubi-tubi masyarakat  demi menggerakkan kembali roda perekonomian memaksa pemerintah untuk melemahkan regulasi yang dianggap terlalu ketat. Peningkatan mobilitas penduduk pun tak terhindarkan dan kemudian secara tak langsung turut menjadi salah satu penyebab terbesar penyebaran kasus positif COVID-19 saat ini. Provinsi DKI Jakarta sebagai pusat pergerakan orang di Indonesia memegang pengaruh yang sangat besar.

Pada sektor transportasi, Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdana Kusuma yang dioperasikan oleh PT Angkasa Pura II berupaya untuk memperketat ketertiban para calon penumpang dalam mematuhi protokol kesehatan. Aturan yang diberlakukan antara lain yaitu adanya pos check point pemeriksaan surat kesehatan hasil rapid test atau PCR test, pengecekan suhu tubuh menggunakan thermal scanner, beserta arahan physical distancing. Muhamad Wasid, Director of Operation and Service PT Angkasa Pura II berkomitmen, “PT Angkasa Pura II dan stakeholder menjaga agar operasional bandara termasuk Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma dapat mengedepankan aspek kesehatan dan pencegahan penyebaran Covid-19.”

Salah satu ahli Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono, menyatakan bahwa peningkatan kasus kembali terjadi usai mudik lebaran. ”Karena setiap libur panjang itu berpotensi menimbulkan klaster baru. Apalagi mereka didorong agar berwisata tanpa disertai sosialisasi akan kepatuhan protokol kesehatan yang tegas,” ujarnya. Banyaknya libur panjang menyebabkan kasus meningkat drastis.

Epidemiolog lain dari kampus serupa, yaitu Iwan Ariawan, mengatakan bahwa pergerakan orang dengan peningkatan jumlah kasus memiliki korelasi yang erat. Berdasarkan penelitiannya mengenai mobilitas penduduk, ia menemukan bahwa ada pola pergerakan penduduk dari kota besar ke luar kota pada masa PSBB transisi, terutama saat hari libur. Padahal, ketika masih dalam kondisi PSSB non-transisi di bulan Mei 2020, pergerakan penduduk menurun drastis. Iwan juga menjelaskan kegiatan berangkat maupun pulang kantor juga termasuk faktor pengaruh peningkatan jumlah kasus ini.

Dari awal penyebaran COVID-19 ke Indonesia, seharusnya mobilitas penduduk menjadi fokus paling utama yang harus ditegaskan oleh pemerintah. Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina, sebagai daerah di mana kasus positif pertama kali ditemukan pada Desember 2019, membuktikan bahwa kegiatan penduduk yang berpindah dari suatu wilayah ke wilayah lain adalah cara ampuh penyebaran virus ini. Lima bulan setelah kemunculannya, COVID-19 telah menyebar luas ke lebih dari 200 negara lainnya. Hal tersebut menyebabkan Kota Wuhan dan beberapa wilayah lain di Cina terpaksa memberlakukan lock down secara masif. Hasilnya, terbukti Cina dapat menekan angka kasus positif sehingga masyarakat Cina mampu menjalani hidup sehari-hari tanpa ditemani rasa ketakutan lagi walau tetap membiasakan diri dengan menggunakan masker dan rutin mencuci tangan.

Tinggalkan Balasan