PENGENTASAN KEMISKINAN KOTA SURABAYA MELALUI PROGRAM PAHLAWAN EKONOMI DAN PEJUANG MUDA
Program Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda Kota Surabaya (Sumber: Enciety)

PENGENTASAN KEMISKINAN KOTA SURABAYA MELALUI PROGRAM PAHLAWAN EKONOMI DAN PEJUANG MUDA

Kota Surabaya merupakan kota terbesar di Indonesia, setelah Jakarta. Seiring perkembangan Kota Surabaya sebagai metropolitan, muncul permasalahan-permasalahan baru, salah satunya adalah masalah kemiskinan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya, jumlah penduduk miskin di Kota Surabaya pada tahun 2019 adalah sekitar 130 ribu jiwa atau 4,51% dari total penduduknya. 9 tahun lalu kondisinya justru lebih buruk, di mana pada tahun 2010, tingkat kemiskinan di Kota Surabaya mencapai angka 7,07% atau sekitar 195,7 ribu jiwa.

Menurut Harsono (2005) salah satu penyebab kemiskinan di perkotaan adalah keterbatasan keterampilan. Masyarakat miskin umumnya memiliki learning process yang rendah karena tidak adanya biaya untuk mengenyam pendidikan di sekolah, kursus, ataupun pelatihan yang dapat meningkatkan keterampilan mereka. Keterbatasan keterampilan ini menyebabkan kebanyakan masyarakat miskin terpaksa mengambil jenis-jenis pekerjaan yang hanya menghasilkan uang tanpa bersifat produktif.

Sumodiningrat (1998) menjelaskan bahwa dalam melakukan manajemen terhadap permasalahan kemiskinan kota, perlu dipilih strategi yang dapat memperkuat peran dan posisi perekonomian masyarakat dalam perekonomian nasional, sehingga terjadi perubahan secara struktur yang meliputi pengalokasian sumber daya, penguatan kelembagaan, dan pemberdayaan sumber daya manusia. Maka dari itu, program pengentasan kemiskinan hendaknya berpihak dan memberdayakan masyarakat miskin melalui pembangunan ekonomi dan peningkatan perekonomian yang diwujudkan dalam langkah-langkah strategis yang diarahkan secara langsung pada perluasan akses masyarakat miskin kepada sumber daya pembangunan dan menciptakan peluang bagi mereka untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan, sehingga masyarakat miskin mampu mengatasi kondisi keterbelakangannya. Kembali lagi ke karakteristik ekonomi masyarakat miskin di mana mereka cenderung bekerja dengan mengandalkan tenaga dan tujuannya hanya sekadar untuk menjaga mereka agar tidak mati kelaparan, tanpa berpikir untuk menaikan produktivitas yang juga berdampak pada peningkatan perekonomian mereka. Untuk itu, program pengentasan kemiskinan harus dapat mengubah persepsi ini. Masyarakat miskin harus diberdayakan untuk dapat meningkatkan produktivitas mereka, di mana tidak hanya sekadar bekerja untuk memenuhi kebutuhan harian saja, tetapi juga dapat meningkatkan perekonomian mereka di masa mendatang.

Program pemberdayaan masyarakat kini telah menjadi fokusan Pemerintah Kota Surabaya dalam menyelesaikan permasalahan kemiskinan. Salah satu program yang dinilai banyak berpengaruh dalam pengentasan kemiskinan di Kota Surabaya adalah program Pahlawan Ekonomi dan Pejuang muda. Program ini diinisiasi oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, dan selanjutnya dikembangkan oleh Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak Kota Surabaya. Program Pahlawan Ekonomi adalah program pemberdayaan perempuan khususnya ibu rumah tangga dari keluarga miskin yang diberikan kesempatan untuk mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) berupa pelatihan dan pendampingan usaha. Sementara program Pejuang Muda adalah program pemberdayaan yang diperuntukkan bagi anak-anak muda yang memiliki potensi dan keinginan untuk berinovasi membangun sebuah usaha. Dalam program ini, para Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda diberikan pelatihan dan pendampingan secara komprehensif, sejak tahap awal bimbingan mental, pembuatan produk, pengemasan, pemasaran, hingga tahap promosi. Dengan demikian potensi mereka dapat diberdayakan dengan baik. Dari UMKM ini, masyarakat Kota Surabaya, khususnya masyarakat tidak mampu, dapat Go Global, Go Digital, dan Go Financial.

 

Terdapat beberapa jenis UMKM yang diberdayakan dalam program Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda. Yang pertama adalah UMKM busana dan konveksi. Dalam UMKM jenis ini, para Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda diberikan pelatihan menjahit dan berkreasi meluangkan ide dalam bentuk busana dan konveksi. Selanjutnya ada jenis UMKM souvenir dan aksesoris, di mana mereka dilatih untuk berkreasi menciptakan souvenir dan aksesoris yang unik dan cantik. Yang ketiga ada UMKM jenis usaha kuliner. Pemerintah memberikan pelatihan membuat makanan dan minuman baik ringan maupun berat, yang berdaya saing tinggi di lingkup Kota Surabaya, nasional, ataupun internasional. Usaha keempat adalah jenis usaha daur ulang, dengan diberikannya pelatihan menciptakan barang dari bahan-bahan tak terpakai yang bisa di daur ulang menjadi barang-barang baru yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Yang terakhir adalah UMKM jenis usaha industri rumah tangga, di mana para Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda diberikan pelatihan untuk dapat menciptakan dan mengembangkan usaha sendiri dalam lingkup home made industry, dengan memanfaatkan ide-ide dan keahlian yang mereka punya.

Keberhasilan program Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda dapat dilihat dari semakin pesatnya pertumbuhan UMKM baru di Kota Surabaya melalui program ini. Di awal realisasi program ini pada tahun 2010, terdapat hanya 89 UMKM yang diberdayakan, dengan rincian 30 UMKM jenis kuliner, 29 UMKM souvenir dan aksesoris, 19 UMKM busana, dan 11 UMKM home made industry. Kini, pada tahun 2018, jumlah UMKM yang diberdayakan oleh program Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda telah mencapai 9.148 UMKM, dengan rincian 2.782 UMKM home made industry, 1.935 UMKM Kuliner, 1.797 UMKM busana dan konveksi, 1.520 UMKM souvenir dan aksesoris, dan 1.114 UMKM daur ulang. Omzet per bulan UMKM program Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda meningkat dari tahun ke tahun, di mana pada tahun 2015 sebesar 2,21 miliar rupiah, dan kini pada tahun 2017 telah menyentuh angk 5,735 miliar rupiah. Keberhasilan program Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda telah diakui dengan didapatnya banyak penghargaan, salah satunya adalah penghargaan sebagai TOP 40 Inovasi Pelayanan Publik di Indonesia oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI.

Perjuangan Kota Surabaya dalam mengentas kemiskinan salah satunya melalui program Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda kini telah menikmati buah manisnya. Tingkat kemiskinan di Kota Surabaya berangsur-angsur turun dari yang dulunya sebesar 7,07% pada tahun 2010, kini tersisa 4,51% pada tahun 2019. PR Kota Surabaya kini adalah terus berbenah untuk berusaha menurunkan tingkat kemiskinan yang tersisa, yakni 4,51%, ke angka yang lebih rendah.Tentunya dalam menghadapi tantangan ini, Pemerintah Kota Surabaya perlu mengembangkan inovasi pada program-program lama ataupun menciptakan inovasi-inovasi program baru yang lebih efektif dan memiliki pengaruh besar dalam menurunkan tingkat kemiskinan di Kota Surabaya. Pemerintah Kota Surabaya perlu menyadari bahwa saat ini dunia dihadapkan akan revolusi industri 4.0 yang menanamkan teknologi cerdas yang dapat terhubung dengan berbagai bidang kehidupan manusia. Untuk itu, pemberdayaan masyarakat miskin melalui UMKM dalam program Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda atau program lainnya, kini perlu difokuskan dalam pengembangan bisnis digital, seperti berupa e-commerce. Electronic-commerce atau e-commerce adalah segala aktivitas jual beli yang dilakukan melalui media elektronik. E-commerce kini lebih sering terjadi melalui internet. e-commerce memiliki banyak keunggulan dbandingkan bisnis secara konvensional, antara lain: jangkauan pasar yang luas hingga seluruh dunia karena memanfaatkan jaringan internet, biaya yang murah, proses yang mudah, tidak memerlukan banyak ruang, dan tidak terbatas waktu. Hal tentunya menjadi keputusan yang tepat apabila Pemerintah Kota Surabaya mengembangkan UMKM dalam program Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda atau program lainnya dengan memanfaatkan keuntungan yang diberikan oleh platform e-commerce.

Selain itu, Pemerintah Kota Surabaya ke depannya diharapkan juga dapat mengembangkan produk/jenis UMKM dengan mengadaptasi program Making Indonesia 4.0 Kementerian Perindustrian RI, yang merupakan roadmap terintegrasi untuk mengimplementasikan strategi menghadapi era revolusi industri 4.0. Terdapat lima industri yang menjadi fokus implementasi revolusi industri 4.0 di Indonesia, yaitu: makanan dan minuman, tekstil, otomotif, elektronik, dan kimia. Dengan mengembangkan 5 jenis industri ini menjadi produk unggulan UMKM, diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan program pemberdayaan masyarakat guna menurunkan tingkat kemiskinan di Kota Surabaya, dan diharapkan membawa pengaruh yang besar dalam hal daya saing dan kontribusinya terhadap ekonomi Kota Surabaya dan Indonesia menuju 10 besar ekonomi dunia di tahun 2030.

febtee

hi! aku NRP 002 PL 16 :)

Tinggalkan Balasan