Pentingnya Manajemen Stres di Masa Pandemi Covid-19
Sumber gambar: https://www.freepik.com

Pentingnya Manajemen Stres di Masa Pandemi Covid-19

Pandemi coronavirus disease 2019 atau Covid-19 kini semakin merajalela dan membawa dampak ke berbagai lini kehidupan. Bukan hanya berdampak buruk pada kesehatan fisik saja, Covid-19 merupakan salah satu stressor psikososial yang dapat memengaruhi kesehatan mental. Bagaimana tidak, selain pembatasan sosial yang tak berujung, masyarakat juga dibuat resah dengan berita televisi maupun media lainnya yang tiap harinya menampilkan pertambahan jumlah kasus Covid-19 yang kian melonjak hingga saat ini.

Dikutip dari laman Tirto.id, sebanyak 64,3 persen dari 1.522 orang responden memiliki masalah psikologis cemas atau depresi setelah melakukan periksa mandiri via daring terkait kesehatan jiwa dampak dari pandemi Covid-19 yang dilakukan di laman resmi Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI).

“Gejala cemas dan depresi yang dirasakan ialah rasa takut dan khawatir berlebih, merasa tidak bisa rileks dan nyaman, mengalami gangguan tidur, dan kewaspadaan berlebih,” kata Psikiater dari PDSKJI dr Lahargo Kembaren, Sp.KJ pada konferensi pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, di Graha BNPB Jakarta, Jumat (1/5/2020).

Paparan dari media serta informasi yang kita lihat dan dengarkan di masa pandemi ini, secara tidak langsung akan memengaruhi otak sehingga otak akan mempersepsikan bahwa ini adalah hal yang sangat berbahaya atau menakutkan. Selanjutnya pada bagian otak bernama amigdala yang berfungsi sebagai pengolah emosi akan menghasilkan sebuah hormon kortisol atau disebut hormon stres.

Menurut Anoraga (dalam Anggraeni, 2003) stres merupakan tanggapan seseorang, baik secara fisik maupun secara mental terhadap suatu perubahan di lingkungannya yang dirasakan mengganggu dan mengakibatkan dirinya terancam. Namun, tidak semua stres selalu berarti buruk. Selye (1975) membagi stres menjadi dua yaitu eustres dan distres.

Eustres muncul ketika penyebab stres dapat dikelola menjadi hal yang positif dan menguntungkan, misalnya dapat memberikan motivasi. Kebalikannya, distres justru muncul ketika terdapat terlalu banyak stres dan tidak ada hal yang bisa meredakan, menghilangkan, atau mengatasi efek yang ditimbulkan. Hal ini sangat berbahaya karena menimbulkan kecemasan yang berlebihan hingga berujung pada depresi.

Setiap orang punya reaksi yang berbeda terhadap situasi penyebab stres. Di masa pandemi Covid-19 ini terdapat beberapa kelompok yang rentan mengalami stres. Diantaranya yaitu orang tua yang belum terbiasa mengurus anak di rumah, anak-anak dan remaja, lansia dan orang berpenyakit kronis yang berisiko tinggi terkena Covid-19, garda terdepan seperti tenaga medis dan relawan yang berinteraksi dengan pasien Covid-19, orang yang memiliki masalah kesehatan mental, disabilitas, atau masalah penyalahgunaan narkoba, serta keluarga dari kalangan sosioekonomi menengah ke bawah.

Untuk mencegah terjadinya gangguan mental di masa pandemi Covid-19 ini, diperlukan adanya manajemen stres. Menurut Smith (dalam Riskha, 2012), manajemen stres adalah keterampilan yang dapat memungkinkan seseorang untuk mengantisipasi, mencegah, mengelola serta memulihkan dari stres yang dirasakan karena terdapat ancaman dan ketidakmampuan dalam coping yang dilakukan.

Manajemen stres dapat dijadikan sebagai kiat untuk mengurangi dampak buruk dari pengalaman stres yang dirasakan agar tidak menjadi distres atau kecemasan hingga depresi yang disebabkan karena Covid-19 ini. Tips dalam manajemen stres sendiri merupakan hal yang sederhana dan bisa kita lakukan secara mandiri.

Cara yang pertama adalah dengan mengenali sumber stres dan beradaptasi pada kondisi normal baru saat ini. Kemudian ubah pola pikir negatif dengan belajar berpikir positif dalam situasi saat ini. Lebih baik tetap di rumah saja dan hindari berita negatif yang memicu kecemasan. Jangan bosan untuk menerapkan pola hidup sehat, perbanyak aktivitas fisik, dan luangkan waktu untuk bersantai dengan melakukan aktivitas atau hobi yang digemari.

Selain itu, menjaga komunikasi dengan orang lain juga penting. Misalnya seperti curhat dengan orang yang dipercayakan tentang apa yang anda rasakan. Karena dengan berbagi ke orang lain dapat membangun energi positif dan membuat perasaan menjadi lebih tenang. Jangan lupa bahwa anda juga perlu mendekatkan diri pada Tuhan dengan cara membaca kitab suci, berdoa, atau menyaksikan siraman rohani secara online.

Jadi, di masa pandemi ini manajemen stres sangat penting dilakukan untuk menjaga kesehatan mental, karena kesehatan mental sangat memengaruhi imunitas dan kesehatan tubuh kita. Mari lakukan manajemen stres dengan baik untuk menjaga produktivitas dan menjalani aktivitas secara lebih sehat selama pandemi, sehingga kita dapat terlindungi dari serangan virus Covid-19 dan memutus rantai penyebarannya.

Tinggalkan Balasan