Strategi Perencanaan seperti apa di Era New Normal?

Strategi Perencanaan seperti apa di Era New Normal?

Hampir genap Sembilan bulan Covid-19 melanda negara di seluruh dunia. Menurut data dari WHO terdapat total kasus positif virus corona dengan jumlah sebanyak 25.888.128 orang di seluruh dunia per Rabu, 2 September 2020. Sedangkan kasus kematian yang diakibatkan oleh Covid-19 ini sudah terbilang ada 860.249 orang. Indonesia sendiri merupakan negara penyumbang kasus positif Covid -19 yang mana telah masuk sebagai negara dengan 5 besar penambah kasus Corona terbanyak dalam 24 jam di Asia.

Dampak adanya virus corona ini bukan hanya sekedar menyerang pada manusia saja, melainkan segala aspek yang ada di sekitar dan sangat berhubungan erat dengan keberlangsungan hidup manusia sehari-harinya. Antara lain dampak yang ditimbulkan dari adanya pandemik virus covid-19 ini adalah berbagai industri mengalami dampak dan harus memberhentikan tenaga kerja mereka, dalam bidang kesehatan juga tenaga medis benyak mengalami kelelahan baik fisik maupun mental, penyalahgunaan narkoba, dalam bidang perdagangan terjadi kepanikan belanja dan kelangkaan barang, perubahan dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan sesama, penurunan penggunaan transportasi umum dan masih banyak lagi dampak negatif lain yang ditimbulkan.

Di samping itu semua ternyata ada beberapa dampak positif yang dapat kita ambil dari adanya pandemik virus ini, diantaranya kita lebih terbiasa untuk menjaga kebersihan dan membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat. Sedangkan di aspek keruangan dan lingkungan sekitar kita dapat merasakan udara menjadi lebih bersih dari sebelum adanya pandemik covid ini. Dengan adanya WFH membatasi kendaraan yang keluar sehingga langit menjadi lebih cerah dan mengurangi adanya polusi udara.

Lantas, apa yang terjadi pada aspek keruangan selama adanya pandemik ini? Tak dapat dipungkiri bahwa pandemik ini telah menjadi katalisator dalam perubahan kebutuhan ruang dalam perencanaan tata ruang. Diantara perubahan yang terjadi adalah adanya kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk menghindari penyebaran covid dimana masyarakat berkewajiban dan berkesempatan untuk bekerja dri rumah (WFH). Sehingga muncullah ruang-ruang alternatif yang akan menggusur ruang kerja perkantoran dan muncul pula nilai baru dalam memanfaatkan ruang yang beranggapan bahwa ruang kerja perkantoran tidak mutlak. Dari semua kemungkinan tersebut maka timbullah implikasi untuk mengadopsi perubahan dalam pola ruang, misalnya dibutuhkan tambahan ruang di rumah baik meliputi ukuran ruang ataupun jumlah ruang untuk mengakomodasi tambahan kebutuhan ruang yang dipergunakan untuk bekerja.

Beberapa kendala lain adalah yang terjadi adalah adanya kepadatan penduduk yang mana medium penularan dari virus ini adalah melalui droplet, sehingga kebijakan yang sesuai adalah dilaksanakannya physical distancing. Yang terjadi ditengah masyarakat kita adalah dengan kepadatan penduduk yang ada maka semakin kecil jarak fisik interpersonal, maka akan semakin besar peluang terjadinya penularan. Dalam kata lain semakin padat penduduk maka akan semakin rentan penyebaran Covid-19.

Dari semua yang terjadi di tengah kita selama akhir-akhir ini maka perlu diadakan perubahan terhadap penataan ruang sebelum terjadinya pandemik dengan penataan ruang saat ini ketika kita memasuki era new normal. Karena pandemik corona diyakini bakal mengubah struktur kehidupan masyarakat, terlebih dalam hal perencanaan tata ruang kota maka kita sebagai seorang perencana perlu menyiapkan perencanaan kota segera setelah pandemik ini berakhir maupun menyiapkan perencanaan kota lebih sehat guna mengantisipasi pandemik serupa terulang. Diantaranya yang dapat dilakukan untuk perencanaan kota kedepan adalah perencanaan kota yang fokus pada penyediaan akses pelayanan publik seperti kesehatan dan pendidikan terutama untuk masyarakat bawah, menyediakan pembangunan perumahan yang terjangkau dan menyediakan ruang terbuka yang inklusif untuk semua masyarakat, membangun fasilitas yang disebut sebagai active mobility seperti ruangan pedestrian dan ruang bersepeda dan mendukung infrastruktur yang disebut dengan tele activities, jadi internet ke depan bukan menjadi barang secondary atau tertiary tetapi menjadi barang primer, dan data kesehatan masyarakat harus menjadi bagian sistem yang disebut dalam sistem informasi perencanaan pembangunan kota.

Pembangunan kota pada era new normal ini sejatinya adalah sebagai upaya perwujudan kesiapan para perencana kota untuk dapat mengambil pelajaran dari suatu yang terjadi untuk lebih memperbanyak penelitian yang berbasis digital sebagaiĀ  kesiapan dalam menghadapi pandemik atau rintangan yang pasti akan terjadi suatu masa yang akan datang. Memperbanyak kajian akan standar-standar perencanaan yang lebih adaptif dan aplikatif, konsep-konsep keterpaduan pembangunan, pengendalian kepadatan penduduk dan yang terpenting adalah peningkatan kesiapan infrastuktur menuju smart city dan perwujudan kota sebagai health city.(ayndr/028)

Tinggalkan Balasan