Masjid Jamik Sumenep dan Pesan Filosofisnya

Masjid Jamik Sumenep dan Pesan Filosofisnya

Sumenep – Kabupaten Sumenep menjadi pusat kebudayaan di Madura dengan banyak potensi wisata baik wisata alam, budaya, sejarah, religi, dan masih banyak yang lainnya yang juga menjadi bukti perkembangan Kabupaten Sumenep pada setiap masa. Salah satu bangunan bersejarah yang sangat penting dan terkenal di Sumenep adalah Masjid Jamik Sumenep yang memiliki corak akulturasi dari islam, jawa, madura dan cina. Masjid ini menjadi bangunan masjid agung yang menjadi sentral wisata religi di Sumenep, Madura.

Masjid Jamik Sumenep berada di tengah-tengah Kota Sumenep, menghadap taman kota, dengan sebuah gerbang besar berbentuk unik, pintu kayu kuno, berdiri kokoh menghadap matahari terbit. Usia masjid ini sudah mencapai ratusan tahun namun masih berdiri kokoh.

Masjid ini didirikan pada tahun 1781 M, merupakan masjid peninggalan keraton yang memiliki kedudukan sebagai Masjid Negara Keraton Sumenep. Masjid Jamik merupakan masjid dengan arsitektur kuno dengan konstruksi yang megah dan unik.

Dikutip dari Jurnal Sejarah Berdiri Masjid Jamik Sumenep, setelah Pangeran Natakusuma I dilantik menjadi Adipati Sumenep, kondisi sosial masyarakat Sumenep sekitar 80 persen telah memeluk agama Islam. Namun meskipun telah banyak yang memeluk agama Islam, masih banyak juga yang belum mau meninggalkan bentuk kepercayaan lama. Sehingga kebiasaan lama masih tertanam dan berakar dalam jiwa sebelum agama Islam berkembang di Sumenep.

Dikutip dari Jurnal Pelestarian Bangunan Masjid Jamik Sumenep, keunikan dan ciri khas yang terdapat di masjid ini adalah seni kultur desain masjid ini yang merupakan gabungan berbagai unsur budaya dari Cina, Jawa, Arab, Persia, dan India. Arsitek masjid ini sendiri, Lauw Pia Ngo, masyarakat berdarah tionghoa.

Dalam segi arsitektur, beliau menambahkan unsur budaya lokal yang disesuaikan pada lingkungan di masa itu. Hal tersebut dapat dilihat dari pewarnaan yang mencolok pada pintu utama dan jendela yakni 10 jendela dan 9 pintu yang berukuran besar dengan ukiran bunga yang melambangkan ukiran khas Sumenep.

Di dalam kompleks masjid terdapat tiga bangunan tua yang masih dipertahankan bentuk aslinya seperti saat dibangun. Yaitu bangunan induk Masjid Jamik Sumenep, bangunan gapura masjid, dan bangunan menara masjid. Di halaman masjid ada dua pohon yang membuat teduh bagi pengunjung masjid, yakni pohon sawo dan tanjung.

Keduanya memiliki makna filosofi tersendiri. Jika potongan nama dari dua pohon itu digabungkan maka akan menyiratkan pesan sawo (sabu, bahasa Madura) dan pohon tanjung di sebelah utara yang memiliki makna salat jangan berhenti (jangan putus-putus) sebagai tanda menjunjung tinggi agama Allah.

Tinggalkan Balasan